27
Feb
09

Kebudayaan


Kota Pekalongan merupakan warisan budaya masa lalu dan sebagai Ibukota Karesidenan pada jaman kolonial sampai dengan masa kemerdekaan yang mempunyai banyak peningalan – peninggalan bersejarah berupa gedung Pemerintahan pada masa kolonial berupa Kantor Pembantu Gubernur/Residen, Rumah Dinas Pembantu Gubernur/Residen, Lembaga Pemasyarakatan, Kantor Pelabuhan, Kantor Pos dan Giro, Stasiun Kereta Api, Tempat-tempat Ibadah berupa Masjid Kuno Jami’ , Manjid Sapuro, Klenteng, serta Rumah Pangeran Keputran, Rumah Pribadi Patih Sepuh, Rumah Adat Pekalongan, Rumah Pecinan. Peninggalan bersejarah tersebut diatas merupakan Potensi Pariwisata Kota Pekalongan yang harus terus dikembangkan sebagai daya tarik wisatawan baik lokal, regional, nasional maupun internasional.

Wisata olah raga adalah kegiatan wisata yang dilakukan dengan melakukan aktivitas olah raga yang menyenangkan, umumnya dilakukan di kawasan obyek wisata. Wisata olah raga merupakan salah satu jenis kegiatan wisata yang perkembangannya cukup pesat di negara kita, khususnya di kawasan obyek wisata pantai ternama semisal Bali, Lombok dan Anyer. Jenis kegiatan wisata yang masuk dalam kategori kegiatan wisata olah raga misalnya; Arung Jeram, Paralayang, Ski air, Memancing, renang, bilyard, golf dan lain-lain. Jenis wisata olah raga yang ada di Kota Pekalongan masih sangat terbatas. Hal ini berkaitan dengan kondisi kepariwisataan di Kota Pekalongan yang belum digarap secara maksimal. Sektor pariwisata masih belum menjadi andalan pemasukan pendapatan daerah. Di dua obyek wisata pantainya belum tersedia faslitas olah raga pantai yang memadai. Jenis wisata olah raga yang dapat dilakukan di wilayah Kota Pekalongan adalah renang, billiard, jogging dan memancing. Di Kota Pekalongan terdapat 2 kolam renang yaitu; kolam renang Tirta Sari di jalan Perintis Kemerdekaan dan Kolam Renang Hotel Nirwana di jalan Dr. Wahidin. Tempat billiard terdapat di Jalan Gajah Mada dan Jalan KHM Mansyur.

Lokasi: Jl. Irian Kelurahan Sapuro

Pekalongan merupakan salah satu kota penting dalam penyebaran agama Islam di Pesisir Pulau Jawa. Tidak heran tokoh Islam yang berpengaruh dan dimakamkan di Kota Pekalongan. Salah satunya adalah Sayid Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al Atas beliau adalah seorang Ulama Besar yang semasa hidupnya Sangat berjasa dalam merintis pendirian Pondok Pesantren di Pulau Jawa. Makam beliau terletak di Jalan Irian Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Barat, sekitar 1000 Meter dari terminal bus Kota Pekalongan. Di Komplek Pemakaman juga terdapat Masjid Tua bernama ’MASJID AULIA” yang dibangun pada tahun 1.113/ 1714 Masehi. Para pengunjung adalah mereka yang ingin melakukan ritual ziarah makam, biasanya datang pada hari Kamis dan Jum’at. Jumlah pengunjung mencapai puncaknya setiap tanggal 14 Sya’ban/ Ruwah dimana diadakan acara Sya’banan atau lebih dikenal dengan istilah “KHOL” , ziarah makam dibuka untuk umum setiap hari, pengunjung datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Jumlah pengunjung makam sulit untuk diketahui secara pasti, pada setiap Khol jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang. Fasilitas yang tersedia bagi pengunjung di komplek makam ini adalah lahan parkir cukup luas, Masjid, Penginapan, Rumah Makan, Pedagang Souvenir dan lain-lain.

Lokasi : Jl. Jatayu No.3 Pekalongan

Buka setiap hari jam 08.30 - 17.00 WIB Koleksi batik yang ada berasal dari berbagai daerah di nusantara seperti Jogjakarta, Surakarta, dan batik-batik daerah pesisir, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem, Rembang, Tuban dan Sidoarjo. Selain itu juga terdapat koleksi batik dari Malaysia dan batik-batik kuno yang berusia puluhan bahkan seratus tahun.

Lokasi: Pesisir Laut Utara Jawa

Tradisi Sedekah Laut / Nyadran banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Pekalongan yang biasa disebut Tradisi Nyadran. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat nelayan Kota Pekalongan setiap bulan Syuro sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang melimpah. Pada tradisi ini para nelayan bersama masyarakat mengadakan Ritual Sadranan dengan menghias kapal-kapal nelayan yang berisi sesaji antara lain Kepala Kerbau, aneka jajan pasar, wayang Dewi Sri dan Pandawa Lima, aneka mainan anak-anak, serta setelah melalui beberapa prosesi dan do’a selamatan kemudian dibawa ketengah laut untuk dilarung yang diawali pelarungan Kepala Kerbau oleh seorang Tokoh Spiritual. 13 Isi perahu yang telah dilarung akan menjadi rebutan anak-anak nelayan dengan harapan mendapat barokah dari Allah SWT melalui barang-barang yang dilarung tersebut. Pada saat yang bersamaan diselenggarakan juga Ritual Pementasan Wayang Kulit dengan cerita Bedog Basu yang menceritakan terjadinya ikan di darat dam di laut, serta berbagai kegiatan lomba olahraga, kesenian dan kulirner ikan hasil tangkapan nelayan.

Sintren adalah kesenian tradisional masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, Sintren adalah sebuah tarian yang berbau mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dan Sulandono. Tersebut dalam kisah bahwa Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Kir Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam goib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari betul-betul masih dalam keadaan suci (perawan). Sinteren diperankan seorang gaadis yang masih suci, dibantu oleh pawangnya dan diiringi gending 6 orang sesuai Pengembangan tari sintren sebagai hiburan budaya maka dilengkapi dengan penari pendamping dan bador (lawak). Didalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, Si pawang (dalang) sering mengundang Rokh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bilamana hal itu dapat berhasil maka pemain Sintren akan kelihatan lebih cantik dan dalam membawakan tarian lebih lincah dan mempesonakan.

Kesenian ini sangat dikenal dan populer di daerah Pantura terutama Eks Karesidenan Pekalongan. Pada jaman dahulu acara sinter ini digunakan untuk acara hiburan dan ajang komunikasi muda mudi untuk mencari jodoh, selain itu kesenian ini digunakan sebagai mediasi untuk meminta hujan. Sedangkan saat ini Sintren masih sering dipentaskan pada hari-hari besar Nasional serta untuk menyambut tamu resmi.

Lokasi: Krapyak Pekalongan

Kota Pekalongan kaya dengan acara Budaya Tradisional. Tradisi ini tetap terpelihara secara turun temurun dalam kurun waktu yang panjang. Para wisatawan yang kebetulan berkunjung bertepatan dengan penyelenggaraan acara-acara tradisional ini, bisa ikut menyaksikan jalannya upacara yang cukup menarik dan unik. Beberapa acara tradisi ini diantaranya adalah SYAWALAN / KRAPYAKAN ( Lopis Raksasa ). Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan, yang dilaksanakan pada setiap hari ketujuh sesudah Hari Raya Idul Fitri. Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lopis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter diameter 1,5 meter dan berat mencapai 500 Kg. Setelah acara do’a bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Para perngunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket atau merekatkan. Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Jumlah pengunjung pada tradisi ini mencapai ribuan orang yang berasal dari seluruh Kota Pekalongan dan sekitarnya.

Lokasi: Pekalongan

Batik Pekalongan terkenal di seluruh dunia, diantaranya motif jlamprang, Cuwiri, Garuda Madep, Galaran. Batik Pekalongan mempunyai ciri tersendiri didalam segi motif ataupun warnanya. Warna atau motif batik Pekalongan banyak berpengaruh gaya dan motif Cina.

Lokasi: Pekalongan

Samproh merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan islam, yang beranggotakan beberapa wanita dengan diiringi lantunan alat musik seperti Rebana, Sedangkan Simtuduror juga merupakan kesenian tradisional yang bernafaskan Islam dengan menggunakan Rebana dan Jidor sebagai alat musiknya. Kesenian ini beranggotakan antara 15 orang - 20 orang, dengan diiringi musik mereka melantunkan puji-pujian atau sholawatan sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan dunia dan akhiran pada Allah SWT. Kesenian ini biasa digunakan pada saat pembukaan acara khajatan atau selamatan yang diselenggarakan oleh warga masyarakat Kota Pekalongan yang terkenal dengan ketaatannya dalam menjalankan perintah Agama. ( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )

Lokasi: Pekalongan

Tradisi Pek Chun pada hakekatnya hampir sama dengan tradisi sedekah laut atau Nyadran hanya saja, tradisi ini diselenggarakan oleh warga Tionghoa di Kota Pekalongan. Pada prinsipnya acaranya sama, hanya penyelenggara, isi perahu dan waktunya yang berbeda. Tradisi Pek Chun dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa menurut kalender China pada perayaan tahun baru china atau imlek. Acara yang mengiringi tradisi Pek Chun adalah Pentas seni Barongsai dan kesenian masyarakat china lainnya serta makan bersama dan pelaksanaan berbagai lomba. Jumlah pengunjung pada pelaksanaan tradisi Nyadran dan Pek Chun mencapai ribuan orang, yang berasal dari seluruh pelosok Kota Pekalongan dan masyarakat sekitarnya serta wisatawan mancanegara yang kebetulan berada di Kota Pekalongan.

gedung Museum Batik Pekalongan

MUSEUM Batik di Jalan Jetayu-yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli-Pasar Grosir, dan Kampoeng Batik Kauman kini menjadi ikon Kota Pekalongan dalam mempromosikan batik.

Ketiga ikon tersebut digadang-gadang bisa memperkuat pencitraan Pekalongan identik dengan batik. Keberadaan museum, pasar grosir, dan kampung batik itu bisa menarik pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Diyakini, potensi ini semakin lama semakin mendapat perhatian dunia, karena museum dilengkapi berbagai produk batik. Tidak sekadar dari Pekalongan, namun beberapa batik di seluruh Indonesia. Tentu, keberadaan museum tersebut mendorong para penggemar batik dan peneliti dari dunia datang ke Kota Pekalongan.

Menurut Sekretaris Umum PBI, Sri Ruminingsih, sejak diresmikan setahun lalu, banyak orang tertarik mengunjungi tempat menampung hasil karya adiluhung itu.

Data dari museum menunjukkan, tiap bulan rata-rata 20 pengunjung luar negeri seperti dari Belanda, Jepang, Argentina, dan Finlandia mendatangi museum itu. Jika dihitung secara keseluruhan, baik pengunjung asing maupun dalam negeri mencapai 15.000 orang.

800 Koleksi

Mengenai jumlah koleksinya, menurut Kurator Museum Batik, Asmoro Damais, sudah ada 800 koleksi, baik batik kuno maupun batik-batik yang diproduksi sejak zaman kemerdekaan hingga terkini. Namun, tidak semuanya bisa dipajang dalam pameran di museum itu.

Menurut dia, koleksi di museum ini adalah batik yang secara kualitas benar-benar memang bagus dan memiliki nilai sejarah. Antara lain batik itu kuno dan belum ada batik yang sama dan diserahkan ke Museum Batik. Karena itu, seleksi batik yang dipamerkan ini sangat ketat.

Saking banyaknya, tidak semua koleksi bisa dipamerkan secara bersamaan di bekas gedung peninggalan Belanda itu. Namun, pada waktu tertentu, seluruh batik yang dipamerkan diganti dengan jenis batik lainnya.

Dengan demikian, museum itu akan tetap menjadi daya tarik selamanya, mengingat koleksinya selain kuno juga terkini. Dari 800 koleksi tersebut, beberapa di antaranya ada yang umurnya sudah 100 tahun, meski jumlahnya tidak banyak. Batik itu motifnya laseman yang diperoleh dari Syarifah Nawawi, Minangkabau.

Ikut andil dalam membantu koleksi batik di Museum Batik Indonesia adalah kolektor Minarsih Soedarko, Nian Djoemena, dan beberapa anggota Yayasan Batik Indonesia serta yayasan batik lainnya di Indonesia.

Dari berbagai motif batik itu, disediakan dua tempat untuk pameran. Yakni ruang utama hanya untuk batik-batik kuno hingga batik yang diproduksi pada zaman penjajahan Jepang.

Kemudian untuk batik yang diproduksi sejak zaman kemerdekaan sampai sekarang, disediakan tempat di ruang kedua. Dari 800 koleksi batik yang diberikan dari pecinta batik maupun pengusaha itu, menunjukkan adanya perhatian dari pecinta batik di seluruh Indonesia.

Gedung Museum Indonesia itu dibangun dengan memanfaatkan gedung bekas Balai Kota Pekalongan. Gedung itu dipilih karena bangunan itu didirikan pada zaman penjajahan Belanda.

Untuk mendirikan museum itu, Pemkot bersama Yayasan Batik Indonesia Jakarta serta beberapa paguyuban batik sangat mendukungnya, sehingga museum itu terwujud dengan bagusnya. Sedangkan Pasar Grosir Setono, sebagai tempat pemasaran batik, kini juga mulai berkembang. Setiap hari, beberapa bus wisata mampir ke tempat itu, selain mobil-mobil pribadi.

Nah, pada PBI yang berlangsung 1-5 September juga diresmikan Kampoeng Batik di Kauman oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Nantinya diharapkan menjadi kampoeng wisata Batik di Kota Pekalongan.

Dengan demikian, ada harapan Kampoeng Batik itu menjadi satu paket wisata dengan Museum Batik dan Pasar Grosir dalam upaya memperkenalkan produk batik Pekalongan, khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Artikel ini di ambil dari http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/01/nas15.htm

PADA 1- 5 September, Pekan Batik Internasional (PBI) akan berlangsung di Kota Pekalongan. Berbagai kegiatan akan dilakukan dalam rangka menarik perhatian internasional. Kegiatan itu dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Lapangan Jetayu, Kota Pekalongan. Untuk mengetahui bagaimana kegiatan itu, berikut laporan wartawan Suara Merdeka Trias Purwadi dan Dwi Ariadi dalam beberapa bagian.

SETELAH beberapa tahun lalu Kota Pekalongan menyelenggarakan festival batik internasional, tahun ini kembali menggelar Pekan Batik Internasional (PBI).

Tak sekadar pameran batik dari berbagai daerah se-Indonesia, tetapi juga digelar kegiatan pendukung lain. Beberapa kegiatan tersebut di antaranya pesta kuliner yang diikuti 60 stan makanan khas Pekalongan dan sekitarnya.

Selain pameran batik, ada juga seminar dengan tema Batik sebagai Ikon Budaya, lokakarya packaging pangan, seminar hak atas kekayaan intektual (HAKI), teknologi batik, dan penanggulangan limbah batik, parade batik serta malam apresiasi dan tur budaya.

Bahkan, dalam momentum ini juga diundang 11 negara untuk berpartisipasi. Menurut Wali Kota Pekalongan HM Basyir Ahmad, lima negara sudah menyatakan kesanggupannya untuk hadir, yakni Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Laos, dan Jepang. Sedangkan dalam acara pembukaan, juga ada beberapa kedutaan yang menyatakan siap hadir di Pekalongan. ”Ini sebagai upaya menduniakan batik Pekalongan dan batik Indonesia,” katanya.

Kegiatan lain, menurut dia, pameran batik dengan peserta 130 stan produksi batik dari seluruh Nusantara. Bahkan, Papua pun siap ikut ambil bagian. Untuk memberikan kenyamanan dalam stan, panitia memasang AC. Dalam waktu singkat, stan di dalam GOR dan di luar GOR langsung habis disewa oleh pengusaha.

Peresmian

Yang akan menjadi perhatian adalah peresmian ”Kampoeng Batik” di Kelurahan Kauman, Pekalongan Timur. Peresmiannya direncanakan oleh Wapres. Guna mendukung peresmian tersebut, berbagai kegiatan masyarakat setempat pun dilakukan.

Tak pelak, berbagai sudut nuansa batik begitu kental. Di sepanjang jalan dihiasi berbagai desain batik dan aksesoris lain.

Dari kegiatan itu, beberapa lapisan masyarakat ikut berperan aktif, baik dari Kadin, persatuan hotel, pengusaha batik dan masyarakat setempat. Sebab, menurut dia, dengan adanya PBI itu, masyarakat bawah sampai atas akan bisa menikmatinya.

Jadi, bukan hanya pengusaha batik yang akan diuntungkan, namun juga masyarakat umum. Misalnya, perhotelan akan terisi tamu-tamu dari luar kota atau asing, transportasi menjadi ramai, bahkan abang becak pun juga akan ramai.

Pencitraan

Untuk jangka panjang, PBI bisa menjadikan citra di luar negeri bahwa Pekalongan merupakan kota yang memproduksi batik. Ini diharapkan akan berpengaruh terhadap perkembangan batik di kota pantura ini.

Dengan ramainya batik, tentu akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat mengingat sebagian besar masyarakat Pekalongan bermata pencaharian di bidang perbatikan.

Baik sebagai pembatik pengusaha maupun pedagang. Maka tidak heran, jika PBI menjadi harapan masyarakat untuk perkembangan batik di masa depan.

Adapun alasan lokasi PBI yang diselenggarakan Pemkot Pekalongan dengan didukung Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian serta Kadin Pusat dan Yayasan Kadin Indonesia, menurut wali kota, berkaitan dengan wilayah berpotensi besar untuk pengembangan batik di masa depan.

Karena itu, jangan heran jika pembatik dari Pekalongan mampu membatik untuk berbagai motif luar Pekalongan, seperti Solo, Yogya, Bali, Lasem, Cirebon, bahkan motif Papua.

Batik-batik yang dijual di kota-kota besar di Indonesia juga sebagian hasil karya dari masyarakat Pekalongan. Sebab, tidak sedikit pesanan dari berbagai kota mengalir ke Pekalongan.

Di Bali misalnya, ada sekitar 300 pengusaha yang memproduksi batik. Demikian juga di Yogya dan Solo, meski belum terdata secara jelas.

Namun, diakui batik-batik dari Pekalongan mengalir ke Solo, sekalipun di Kota Bengawan itu mereknya berubah. Hal yang sama juga terjadi di Yogyakarta dan kota besar lainnya.

Tidak sedikit pula pembatik-pembatik Pekalongan yang diusung ke kota lain untuk mengerjakan karya adiluhung tersebut.

Karena itu, Basyir akan berupaya mendirikan show room di Jakarta dengan anggota orang-orang Pekalongan (Opek) yang menjadi pengusaha batik, yang menjajakan berbagai produksi batik asal Pekalongan.

”Di tempat itu, hanya ada merek Pekalongan yang akan dijual,” katanya.

Dengan demikian, masyarakat Indonesia dan pembeli asing akan mengetahui sejauh mana kualitas hasil produksi batik dari Pekalongan.

Bambang Hardiman, event organizer kegiatan itu, menjelaskan pesta kuliner digelar di Jalan Diponegoro dengan menyediakan kebutuhan makanan bagi pengunjung. Makanan khas seperti megono, tauto, nasi uwet, dan berbagai jenis makanan yang terbuat dari ikan laut.

Artikel ini di ambil dari www.suaramerdeka.com/ harian/0709/01/nas14.htm

Kota Pekalongan, adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Batang di timur, serta Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat. Pekalongan terdiri atas 4 kecamatan, yakni Pekalongan Barat, Pekalongan Utara, Pekalongan Timur, dan Pekalongan Selatan.

Kota ini terletak di jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Pekalongan berjarak 101 km sebelah barat Semarang, atau 384 sebelah timur Jakarta. Pekalongan dikenal mendapat julukan kota batik, karena batik Pekalongan memiliki corak yang khas dan variatif. Kota Pekalongan memiliki pelabuhan perikanan terbesar di Pulau Jawa. Pelabuhan ini sering menjadi transit dan area pelelangan hasil tangkapan laut oleh para nelayan dari berbagai daerah. Selain itu di Kota Pekalongan banyak terdapat perusahaan pengolahan hasil laut, seperti ikan asin, terasi, sarden, dan kerupuk ikan, baik perusahaan berskala besar maupun industri rumah tangga.

Makanan khas Pekalongan adalah adalah megono, yakni irisan nangka dicampur dengan sambal bumbu kelapa. Makanan ini umumnya dihidangkan saat masih panas dan dicampur dengan petai dan ikan bakar sebagai menu tambahan.

Kota Pekalongan terkenal dengan nuansa religiusnya karena mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Ada beberapa adat tradisi di Pekalongan yang tidak dijumpai di daerah lain semisal; syawalan, sedekah bumi, dan sebagainya. Syawalan adalah perayaan tujuh hari setelah lebaran dan sekarang ini disemarakkan dengan pemotongan lopis raksasa yang memecahkan rekor MURI oleh walikota untuk kemudian dibagi-bagikan kepada pengunjung.

Artikel Selengkapnya


0 Responses to “Kebudayaan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s